" Pengangguran "

                                                    BAB I. PENDAHULUAN

          Pengangguran di Negara berkembang seperti Indonesia, semakin terus bertambah jumlahnya, dimana hal itu merupakan masalah yang lebih rumit dan lebih serius daripada masalah perubahan dalam distribusi pendapatan yang kurang menguntungkan penduduk yang berpendapatan terendah. 
 
          Keadaan di Negara-negara berkembang dalam beberapa dasawarsa ini menunjukan bahwa pembangunan ekonomi yang telah tercipta tidak sanggup mengadakan kesempatan kerja yang lebih cepat daripada pertambahan penduduk yang berlaku. Oleh karenanya, masalah pengangguran yang mereka hadapi dari tahun ke tahun semakin bertambah serius.

           Sesuai catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Pebruari 2008, turun dari 10.547.917 orang pada Februari 2007 menjadi 9.427.590 orang pada Februari 2008. Dengan terjadinya krisis keuangan Global saat ini, diperkirakan jumlah pengangguran akan meningkat akibat banyaknya terjadi PHK, para penganggur ini dapat dimanfaatkan oleh Kelompok tertentu untuk menciptakan instabilitas keamanan, guna mencapai tujuan mengambil alih Pemerintahan secara Inkonstitusional.
Masalah pengangguran dan setengah pengangguran tersebut salah satunya dipengaruhi oleh besarnya angkatan kerja.

Angkatan kerja di Indonesia pada tahun 2002 sebesar 100,8 juta orang,2003 (11,35 juta). Mereka ini didominasi oleh angkatan kerja usia sekolah (15-24 tahun) sebanyak 20,7 juta.

          Pada sisi lain, 45,33 juta orang hanya berpendidikan SD kebawah, ini berarti bahwa angkatan kerja di Indonesia kualitasnya masih rendah.
Ciri lain dari kesempatan kerja Indonesia adalah dominannya lulusan pendidikan SLTP ke bawah. Ini menunjukkan bahwa kesempatan kerja yang tersedia adalah bagi golongan berpendidikan rendah.

          Seluruh gambaran di atas menunjukkan bahwa kesempatan kerja di Indonesia mempunyai persyaratan kerja yang rendah dan memberikan imbalan yang kurang layak. Implikasinya adalah produktivitas tenaga kerja rendah.




                                 BAB II. TEORI


Pengertian penganguran adalah sebutan untuk suatu keadaan di mana masyarakat tidak bekerja.
Menganggur atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan.

Penyebab pengangguran terjadi dikarenakan
1. Jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja.
kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja.
2. Kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja.
3. Terjadinya PHK, yang disebabkan antara lain; perusahaan yang menutup/mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif; peraturan yang menghambat inventasi; hambatan dalam proses ekspor impor, dan lain-lain.

 

A. JENIS PENGANGGURAN DAN PENYEBABNYA
1. JENIS PENGANGGURAN MENURUT WAKTU KERJA
1. Pengangguran Terselubung (Disguissed Unemployment)
Adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
Contoh : suatu kantor mempekerjakan 10 orang karyawan padahal pekerjaan dalam kantor itu dapat dikerjakan dengan baik walau hanya dengan 8 orang karyawan saja,sehingga terdapat kelebihan 2 orang tenaga kerja. Orang-orang semacam ini yang disebut dengan pengangguran terselubung.

2. 2. Setengah Menganggur (Under Unemployment)
      Adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
      Contoh : seorang buruh bangunan yang telah menyelesaikan pekerjaan di suatu proyek untuk sementara menganggur sambil menunggu proyek berikutnya.Setengah pengangguran dibagi menjadi dua kelompok :
• Setengah Penganggur Terpaksa,
     mereka yang bekerja dibawah jam kerja normal dan masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan lain.
     • Setengah Penganggur Sukarela,
     mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal tetapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain, misalnya tenaga ahli yang gajinya sangat besar.

3. 3. Pengangguran Terbuka (Open Unemployment)
     Adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.

      II. JENIS PENGANGGURAN BERDASARKAN PENYEBAB TERJADINYA :

1. Pengangguran konjungtural (Cycle Unemployment)
     Adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan perekonomian/siklus ekonomi.
2. 2. Pengangguran struktural (Struktural Unemployment)
     Adalah pengangguran yang diakibatkan oleh ketidakcocokan antara keterampilan (kualifikasi) tenaga kerja yang dibutuhkan dan keterampilan tenaga kerja yang tersedia.Perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang merupakan latar belakang ketidakcocokan itu.
     Pengangguran struktural bisa diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, seperti :
-Akibat permintaan berkurang
-Akibat kemajuan dan pengguanaan teknologi
-Akibat kebijakan pemerintah
3.3. Pengangguran friksional (Frictional Unemployment)
     Adalah pengangguran yang muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara pemberi kerja dan pencari kerja (pergantian pekerjaan atau pergeseran tenaga kerja).
     Contoh : Ia menganggur untuk sementara waktu dalam rangka mencari pekerjaan yang lebih baik, menantang dan menunjang karirnya. Pengangguran ini sering disebut pengangguran sukarela.

4.4. Pengangguran musiman
       Adalah pengangguran yang muncul akibat pergantian musim misalnya pergantian musim tanam ke musim panen.

5. Pengangguran teknologi
     Adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin-mesin.
6. 6. Pengangguran siklus
     Adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian (karena terjadi resesi), kurangnya permintaan masyarakat (aggrerat demand). Contoh : suatu saat perekonomian suatu negara mengalami masa pertumbuhan (menaik).Di saat lain, mengalami resesi (menurun) atau bahkan depresi.
              Jadi pada saat krisis ekonomi, daya beli masyarakat menurun sehingga tingkat permintaan terhadap barang dan jasa juga menurun.Turunnya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa memaksa produsen untuk menurunkan kegiatan produksi. Produsen melakukan ini antara lain dengan cara mengurangi pemakaian faktor produksi, termasuk tenaga kerja.Inilah mengapa pada saat krisis ekonomi kita menyaksikan banyaknya pegawai atau buruh terkena PHK sehingga menganggur.

                      

                          BAB III. PEMBAHASAN


            Masalah ketenagakerjaan di Indonesia sekarang ini sudah mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan ditandai dengan jumlah penganggur dan setengah penganggur yang besar, pendapatan yang relatif rendah dan kurang merata. 
 


           Pembangunan bangsa Indonesia kedepan sangat tergantung pada kualitas SDM Indonesia yang sehat fisik dan mental serta mempunyai ketrampilan dan keahlian kerja, sehingga mampu membangun keluarga yang bersangkutan untuk mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan layak, sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup, kesehatan dan pendidikan anggota keluarganya.


          Sebaliknya pengangguran dan setengah pengangguran yang tinggi merupakan pemborosan pemborosan sumber daya dan potensi yang ada, menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal, dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang.

Masalah pengangguran tentu tidak muncul begitu saja tanpa suatu sebab.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran secara global yaitu :
1. Besarnya Angkatan Kerja Tidak Seimbang dengan Kesempatan Kerja
Ketidakseimbangan terjadi apabila jumlah angkatan kerja lebih besar daripada
kesempatan kerja yang tersedia. Kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi.

2. Struktur Lapangan Kerja Tidak Seimbang
3. Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang
Apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar dari pada angkatan
kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasannya, belum tentu terjadi
kesesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dan yang tersedia.
Ketidakseimbangan tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak
dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia.

4. Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Kerja antar daerah tidak seimbang
Jumlah angkatan kerja disuatu daerah mungkin saja lebih besar dari kesempatan
kerja, sedangkan di daerah lainnya dapat terjadi keadaan sebaliknya. Keadaan
tersebut dapat mengakibatkan perpindahan tenaga kerja dari suatu daerah ke
daerah lain, bahkan dari suatu negara ke negara lainnya.

5. Budaya pilih-memilih pekerjaan
Pada dasarnya setiap orang ingin bekerja sesuai dengan latar belakang
pendidikan. Tetapi ditambah dengan sifat gengsi maka tak heran kebanyakan yang
ditemukan di Indonesia bukan pengangguran terselubung, melainkan pengangguran
terbuka yang didominasi oleh kaum intelektual (berpendidikan tinggi).

6. Timbul sifat Pemalas
Malas mencari pekerjaan sehingga jalan keluar lain yang ditempuh adalah dengan
menyogok untuk mendapatkan pekerjaan.
7. Tidak mau ambil resiko
Saya bersedia tidak digaji selama 3 bulan pertama jika diterima bekerja di kantor bapak. Dengan demikian bapak tidak akan rugi. Jika bapak tidak puas dengan hasil kerja saya selama 3 bulan tersebut, bapak bisa pecat saya.”
Adakah yang berani mengambil resiko seperti itu? Kami yakin sedikit sekali. Padahal kalau dipikir-pikir itu justru menguntungkan si pencari kerja selama 3 bulan tersebut ia bisa menimba pengalaman sebanyak-banyaknya.
Meskipun akhirnya dipecat juga, toh dia sudah mendapat pengalaman kerja 3 bulan.



Pengangguran pun mempunyai berbagai dampak terhadap segala sesuatu :
a. Dampak Pengangguran terhadap Perekonomian suatu Negara

Tujuan akhir pembangunan ekonomi suatu negara pada dasarnya adalah meningkatkan kemakmuran masyarakat dan pertumbuhan ekonomi agar stabil dan dalam keadaan naik terus.
Jika tingkat pengangguran di suatu negara relatif tinggi, hal tersebut akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan ekonomi yang telah dicita-citakan.
Hal ini terjadi karena pengganguran berdampak negatif terhadap kegiatan perekonomian, seperti yang dijelaskan di bawah ini:
A. Pengangguran bisa menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat kemakmuran yang dicapainya. Hal ini terjadi karena pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil (nyata) yang dicapai masyarakat akan lebih rendah daripada pendapatan potensial (pendapatan yang seharusnya). Oleh karena itu, kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih rendah.
B. Pengangguran akan menyebabkan pendapatan nasional yang berasal dari sektor pajak berkurang. Hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan perekonomian menurun sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan demikian, pajak yang harus dibayar dari masyarakat pun akan menurun. Jika penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah juga akan berkurang sehingga kegiatan pembangunan pun akan terus menurun.
  1. Pengangguran tidak menggalakkan pertumbuhan ekonomi. Adanya pengangguran akan menyebabkan daya beli masyarakat akan berkurang sehingga permintaan terhadap barang-barang hasil produksi akan berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang kalangan Investor (pengusaha) untuk melakukan perluasan atau pendirian industri baru. Dengan demikian tingkat investasi menurun sehingga pertumbuhan ekonomipun tidak akan terpacu.

b. Dampak pengangguran terhadap Individu yang Mengalaminya dan Masyarakat

-Pengangguran dapat menghilangkan mata pencaharian
-Pengangguran dapat menghilangkan ketrampilan
-Pengangguran dapat meningkatkan angka kriminalitas
-Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan sosial politik.
-Pengangguran dapat meningkatkan angka kemiskinan.



KEBIJAKAN – KEBIJAKAN PENGANGGURAN
 
Cara Mengatasi Pengangguran Struktural
1. Peningkatan mobilitas modal dan tenaga kerja
2. Segera memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sector yang kelebihan ke tempat dan sector ekonomi yang kekurangan
3. Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi formasi kesempatan (lowongan) kerja yang kosong, dan
4. Segera mendirikan industri padat karya di wilayah yang mengalami pengangguran.
 Cara Mengatasi Pengangguran Friksional
1. Perluasan kesempatan kerja dengan cara mendirikan industri-industri baru, terutama yang bersifat padat karya
2. Deregulasi dan Debirokratisasi di berbagai bidang industri untuk merangsang timbulnya investasi baru
3. Menggalakkan pengembangan sector Informal, seperti home indiustri
4. Menggalakkan program transmigrasi untuk menyerap tenaga kerja di sector agraris dan sector formal lainnya
5. Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain sehingga bisa menyerap tenaga kerja secara langsung maupun untuk merangsang investasi baru dari kalangan swasta.
 Cara Mengatasi Pengangguran Musiman
1. Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja di sector lain, dan
2. Melakukan pelatihan di bidang keterampilan lain untuk memanfaatkan waktu ketika menunggu musim tertentu.
 Cara mengatasi Pengangguran Siklus
1. Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa, dan
2. Meningkatkan daya beli Masyarakat.

 Pengangguran juga dapat diatasi dengan cara :
1. Program Pendidikan dan Pelatihan Kerja
     Pengangguran terutama disebabkan oleh masalah tenaga kerja yang tidak terampil dan ahli. Perusahaan lebih menyukai calon pegawai yang sudah memiliki keterampilan atau keahlian tertentu. Masalah tersebut amat relevan di negara kita mengingat sejumlah penganggur adalah orang yang belum memiliki keterampilan atau keahlian tertentu.

     Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu digalakan lembaga yang mendidik tenaga kerja menjadi siap pakai. Yang paling penting dalam pendidikan dan pelatihan kerja itu adalah kesesuaian program dengan kualifikasi yang dituntut oleh kebanyakan perusahaan. 
   2.  Berwiraswasta
      Selama orang masih tergantung pada upaya mencari kerja di perusahaan tertentu, pengangguran akan tetap menjadi masalah pelik. Masalah menjadi agak terpecahkan apabila muncul keinginan untuk menciptakan lapangan usaha sendiri atau berwiraswasta. Fakta memperlihatkan cukup banyak wiraswasta yang berhasil. Meskipun demikian, wiraswasta pun bukanlah hal yang mudah.


   
3.Kebijakan Pemerintah Pusat dengan kebijakan Pemerintah Provinsi dan
     Pemerintah Kabupaten/Kota harus merupakan satu kesatuan yang saling
     mendukung untuk penciptaan dan perluasan kesempatan kerja.

Dapat kita lihat pernyataan dari presiden di sebuah media internet antaranews.com :
Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono berjanji akan membuka hingga 10,7 juta lapangan kerja sampai akhir masa jabatannya pada 2014.
Untuk mengejar target jutaan kesempatan kerja tersebut, pemerintah SBY akan menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga 7-7,7 persen pada 2014.
"Lapangan kerja baru akan didorong dari pertumbuhan di sektor manufaktur," kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Berdasarkan Data Kementerian Keuangan dari Nota Keuangan RAPBN 2011 yang baru saja dirilis, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia sebenarnya terus menunjukkan tren penurunan setiap tahun.
Jika pada 2005 angka pengangguran masih 11,2 persen, pada 2007 turun menjadi 9,1 persen, pada 2008 menjadi 8,4 persen, serta turun lagi pada 2009 menjadi 7,87 persen.

Sedangkan, jika dilihat berdasarkan propinsi berdasarkan data BPS terbaru (Februari 2009), angka pengangguran terbesar berada di Pulau jawa yang cukup padat penduduk, khususnya DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Dua propinsi di luar Jawa yang tingkat penganggurannya tinggi adalah Kalimantan Timur dan Maluku.

"Rata-rata angka pengangguran di sejumlah propinsi ini lebih tinggi dibandingkan kawasan lain," demikian pernyataan Kementerian Keuangan.

Berikut ini adalah propinsi yang paling banyak pengangguran berdasarkan tahun 2010:
1 Banten (14,9 persen)
2 Jakarta (11,99 persen)
3 Jawa Barat (11,85 persen)
4 Kaltim (11,09 persen)
5 Sulut (10,63 persen)


                                             
BAB IV. PENUTUP
                            
Kesimpulan dan saran

            Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya.
Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya, kekacauan politik, keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi.
Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.

            Memulihkan kondisi pengangguran di Indonesia tentulah tidak semudah membalikan telapak tangan. Karena itu diperlukan kerjasama dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah. Solusi paling mudah untuk mengatasi hal ini adalah dengan menciptakan lapangan usaha sendiri dan tidak mengharap yang muluk-muluk menjadi seorang karyawan suatu perusahaan dengan gaji yang besar.
Cara lain adalah dengan menetapkan kebijakan baru yang mempersempit kesempatan para pemilik perusahaan untuk mem-PHK karyawannya.


                                          BAB V. DAFTAR PUSTAKA
1. Buku Ekonomi Pembangunan, Prayitno, Hadi . Penerbit Ghalia Indonesia
2. Ritonga,MT dkk. 2007. Ekonomi Untuk SMA kelas XI. Jakarta : PT Phibeta Aneka 
    Gama Internet
3. Alam,S. 2007. Ekonomi untuk SMA kelas XI. Jakarta : Penerbit esis. 
4. Daulat Sinuraya. Solusi Masalah Pengangguran di Indonesia. Suara Pembaruan Daily.  
    2004
5. www.antaranews.com  
6. Buku Intisari Ekonomi untuk SMA kelas X, XI, XII, Drs.Nur Jaka, Dra. Indra 
    Kuswayani, R. Andriani Lestari. Penerbit Pustaka Setia Bandung
7. http://organisasi.org/pengertian-pengangguran-dan-jenis-macam-pengangguran 
    friksional-struktural-musiman-siklikal

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar